BusinessContinuity Plan (BCP) adalah salah satu strategi perusahaan dalam menghadapi krisis. Pahami pengertian, fungsi, tujuan dan contoh Business Continuity Plan (BCP) adalah apa saja. Ada saat dimana bisnis Anda mengalami krisis. Misalnya ketika bencana alam, krisis moneter, atau bahkan krisis kesehatan karena pandemi global COVID-19. Salahsatu hasil atau output dari penerapan manajemen keberlangsungan usaha (BCM) adalah Business Continuity Plan (BCP). BCP merupakan suatu dokumen tertulis yang memuat rangkaian kegiatan yang terencana dan terkoordinir tentang langkah-langkah pengurangan risiko , penanganan dampak gangguan operasional dan proses pemulihan agar kegiatan operasional perusahaan dan pelayanan kepada pelanggan tetap dapat berlangsung. BusinessContinuity Management (BCM) adalah salah satu metode untuk mengantisipasi terjadinya pailit pada bisnis yang disebabkan risiko dari ancaman dan tantangan yang ada. Risiko berlevel tinggi pada perusahaan pelayaran pandu tunda yang didapatkan dari penelitian ini adalah tubrukan kapal tunda, perubahan selera pelanggan, dan kegagalan Managefood safety responsibilities and sell food products with confidence. ISO 22301. Respond to an incident that may disrupt or threaten day-to-day operations with business continuity management (BCM). ISO 13485. Ensure medical devices meet regulatory requirements. FSC Forest Management. . ABSTRAK Business Continuity Management System BCMS adalah sistem manajemen yang fokus pada memastikan keberlangsungan bisnis jika terjadi bencana disaster yang berpotensi menghentikan operasional. Aktivitas dalam sistem manajemen ini adalah menyiapkan langkah-langkah kebijakan, identifikasi risiko, pemetaan peran dan tanggung jawab, mekanisme kerja serta prosedur operasional yang nantinya akan digunakan dalam upaya pemulihan bisnis. Mengapa butuh Business Continuity Management System? Mengapa Perlu Business Continuity? Karena kondisi tidak bisa dijamin selalu ideal untuk menjalankan kegiatan bisnis perusahaan. Karena kondisi di luar normal yang tidak dapat dikendalikan sering kali menyebabkan “sudden & massive lost”. Terdapat cukup banyak hal yang tidak dapat dicegah, namun yang bisa dilakukan adalah mengurangi dampaknya. Sebagai pemenuhan persyaratan dari stakeholder organisasi stakeholder pemerintah, principal, customer, dsb. Sekilas mengenai isi ISO 22301 Isi pada ISO 22301 tentang Business Continuity Management System BCMS adalah sebagai berikut Scope Normative Reference Terms and Definitions Context of the Organization Understanding the organization and its context Understanding the needs and expectations of interested parties Determining the scope of the business continuity management system Business continuity management system Leadership Leadership and commitment Policy Roles, responsibilities and authorities Planning Actions to address risks and opportunities Business continuity objectives and planning to achieve them Planning changes to the business continuity management system Support Resources Competence Awareness Communication Documented information Operation Operational planning and control Business impact analysis and risk assessment. Business continuity strategies and solutions Business continuity plans and procedures Exercise programme Evaluation of business continuity documentation and capabilities Performance Evaluation Monitoring, measurement, analysis and evaluation Internal audit Management review Improvement Nonconformity and corrective action Continual Improvement Menentukan ruang lingkup Business Continuity Management System Aspek berikut ini merupakan aspek yang wajib tertuang dalam bentuk informasi terdokumentasi sebelum menentukan ruang lingkup implementasi. Internal & Eksternal Issue Need and Expectations Stakeholder Jika organisasi memiliki aturan dari regulator yang berdampak pada bisnis organisasi, maka peraturan regulator juga merupakan aspek wajib yang harus dipertimbangkan dalam implementasi BMCS di organisasi selain 2 aspek di atas. Setelah ruang lingkup ditetapkan maka proses penyusunan BCMS akan meliputi kegiatan seperti gambar di bawah ini. Dapat dilihat pada gambar di bawah bahwa BCMS dapat mengakomodir seluruh kegiatan atau proses operasional di dalam sebuah perusahaan. Maka dari itu tidak heran jika Business Continuity Management System memiliki cakupan yang tidak sedikit. Tahapan Penyusunan Business Continuity Management System Tahapan penyusunan BCMS direkomendasikan mengikuti metode Plan-Do-Check-Act PDCA sesuai standar manajemen ISO. Tahapannya adalah sebagai berikut Perencanaan Plan formulasi tujuan, melakukan perencanaan dan menetapkan ketentuan-ketentuan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut Implementasi Do menyiapkan dan merealisasikan segala sesuatu yang diperlukan agar rencana kelangsungan bisnis dapat dieksekusi. Pengujian Check agar dipastikan rencana kelangsungan bisnis dapat dijalankan dengan efektif pada saat terjadi kondisi di luar normal. Tindakan perbaikan Action melakukan evaluasi hasil pengujian sehingga dapat dilakukan perbaikan berkesinambungan Created by Pranda Dwimas F – 2020/05/04 Baca Juga 5 Manfaat BCMS berdasarkan ISO 22301 BCM Awareness Based on ISO 22301 Secara teori, pengertian dari Business Continuity Management BCM adalah suatu rangkaian proses sistem manajemen yang terencana, terukur, dan menyeluruh; yang mencakup identifikasi dini, pengembangan ketahanan, kemampuan pengendalian setiap potensi insiden secara efektif, pemulihan kondisi, dan proses penyelenggaraan kegiatan kembali ke normal; untuk menjamin keberlangsungan bisnis perusahaan/ BCM ini dapat diartikan sebagai sebuah proses pemulihan pasca terjadinya insiden. Tujuannya agar proses bisnis atau kegiatan operasional di sebuah organisasi atau perusahaan tetap bisa berjalan walau tidak secara optimal minimal tidak sampai terhenti bila insiden BCM penting?Kita tidak bisa menjamin kondisi selalu ideal untuk menjalankan kegiatan bisnis di suatu abnormal tidak dapat dikendalikan, sehingga seringkali menyebabkan sudden & massive lostTerdapat cukup banyak hal yang tidak dapat dicegah, namun yang bisa dilakukan adalah mengurangi dampaknyaSebagai pemenuhan prasyarat dari pemangku kepentingan organisasiApa yang dimaksud dengan kondisi abnormal?Kondisi abnormal adalah kondisi yang tidak dapat diantisipasi oleh organisasi atau perusahaan. Contohnya adalahNatural disaster banjir, gempa bumi, gunung meletusMan-made disaster sabotase, peperangan, serangan terorisMain facility failure kegagalan suplai listrik, kegagalan sistem pendingin data center, issue pemogokan, embargo ekonomi, melaksanakan BCM, diperlukan suatu acuan dokumen, yaitu Disaster Recovery Plan DRP. DRP merupakan dokumen tertulis yang berisikan program yang telah disetujui, diimplementasikan, serta dievaluasi secara periodik, yang memfokuskan pada semua kegiatan yang perlu dilakukan sebelum, ketika, dan setelah bencana. Rencana ini disusun berdasarkan kajian yang dilakukan secara menyeluruh terhadap bencana-bencana yang berpotensi mendatangkan kerugian, mencakup lingkup fasilitas, lokasi geografis, atau industri. Rencana ini juga merupakan tanggapan yang efisien untuk proses pemulihan, baik dari segi biaya maupun juga harus mencakup prosedur untuk merespon suatu keadaan darurat, menyediakan operasi backup selama gangguan terjadi, mengelola pemulihan, dan menyelamatkan proses sesudahnya. Sasaran pokok DRP adalah untuk menyediakan kemampuan dalam menerapkan proses kritis di lokasi lain dan mengembalikannya ke lokasi dan kondisi semula dalam suatu batasan waktu yang memperkecil kerugian organisasi, dengan pelaksanaan prosedur recovery yang cepat. Sign up for the latest insights, delivered right to your inbox Work Email Person Type By clicking the "Continue" button, you are agreeing to the Gartner Terms of Use and Privacy Policy. Contact Information All fields are required. First Name Last Name Person Type Company Name Country Please provide the consent below I have read, understood and accepted Gartner Separate Consent Letter , whereby I agree 1 to provide Gartner with my personal information, and understand that information will be transferred outside of mainland China and processed by Gartner group companies and other legitimate processing parties and 2 to be contacted by Gartner group companies via internet, mobile/telephone and email, for the purposes of sales, marketing and research. Back By clicking the "Submit" button, you are agreeing to the Gartner Terms of Use and Privacy Policy. NAOLEARN by ATLAS NAOLEARN by ATLAS Promote Better Result and Better ROI through Pedagogy-based Microlearning and Training Solutions. Diterbitkan 16 Jan 2023 Beragam perubahan sering terjadi dalam industri bisnis, di mana berdampak pada kegiatan bisnis perusahaan. Salah satu sistem yang dapat digunakan oleh perusahaan adalah penerapan Business Continuity Management BCM. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Business Continuity Survey pada 2011 diketahui bahwa 80% perusahaan yang mengalami perubahan tutup dalam waktu 18 bulan jika tidak memiliki BCM yang itu Business Continuity Management?Kegiatan usaha yang dilakukan oleh perusahaan harus selalu beroperasi untuk menjalani kegiatan bisnis perusahaan, termasuk setelah terjadinya perubahan. Setidaknya perusahaan harus mampu mengidentifikasi keadaan dan kondisi yang dapat ditoleransi oleh perusahaan terhadap Continuity Management BCM adalah alat yang diterapkan oleh perusahaan untuk menyakinkan usaha-usaha yang dilakukan perusahaan agar bisnis tetap beroperasi kembali pada kondisi yang dapat diterima setelah terjadinya perubahan struktur Business Continuity Management BCM yang merujuk pada ISO 22301 untuk diketahui oleh Impact Analysis BIA Analisis yang dapat dilakukan oleh perusahaan terkait proses bisnis inti yang dapat memengaruhi kegiatan bisnis Risk Assessment DRA Asesmen yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk mengklasifikasi risiko-risiko yang timbul berdasarkan Business Impact Analysis BIA yang telah Continuity Strategy BCS Langkah strategis yang dapat diambil oleh perusahaan saat kejadian disrupsi terjadi, dengan tujuan bisnis perusahaan dapat dilakukan dalam kondisi yang dapat diterima oleh pelanggan/ Continuity Plan BCP Rencana keberlangsungan bisnis yang dibuat secara sistematis sebagai respons dari kejadian disrupsi, dokumen yang masuk dalam BCP adalah sebagai berikutEmergency Respons Plan ERP Dokumen terkait tanggap darurat yang dapat diambil oleh perusahaan dengan tujuan membantu perusahaan agar tidak ada yang celaka. Crisis Management Plan CMP Dokumen yang berisi rencana koordinasi awal serta komunikasi yang perlu dilakukan sesaat setelah terjadinya insiden disrupsi. Disaster Recovery Plan DRP Dokumen pemulihan, khususnya di bidang IT, yang berisi mekanisme failover dan failback, serta rincian sistem, infrastruktur, topologi, dan hardware pada DRC. Post Incident Plan PIP Dokumen pasca insiden yang berisi mekanisme restorasi dan normalisasi setelah kejadian disrupsi Business Continuity ManagementAdapun manfaat-manfaat yang didapatkan oleh perusahaan jika menerapkan Business Continuity management adalah sebagai aset perusahaanMeningkatkan ketahanan organisasiMelindungi pencapaian terhadap sasaran organisasiMeningkatkan reputasi organisasiMemberikan kontribusi terhadap peningkatan berkelanjutan pada organisasiJadi, apakah implementasi Business Continuity Management itu perlu?Sebagai salah satu antisipasi yang dilakukan oleh perusahaan adalah dengan mengimplementasikan alat respons terhadap kejadian disrupsi. Salah satu alat tersebut adalah Manajemen Kontinuitas Bisnis BCM. ISO telah mengeluarkan standar internasional terkait Business Continuity Management, yang dikenal sebagai ISO 22301. Implementasi BCM mampu mengendalikan perusahaan untuk bertahan selama dan pascadisrupsi. Perusahaan yang telah mengimplementasikan Manajemen Kontinuitas Bisnis BCM yang baik, maka telah mengedukasi seluruh elemen perusahaan dalam merespons kejadian era sekarang, perusahaan dirasa sangat perlu mengimplementasikan Manajemen Kontinuitas Bisnis BCM yang baik untuk menghindari perusahaan dan kebangkrutan. Pelajari selengkapnya mengenai Business Continuity Management dengan Naolearn sekarang juga!

business continuity management bcm adalah